Adu Kebolehan Seni Tradisi, 12 Grup Jaranan dari Berbagai Daerah Bertarung di Karang Asam Festival 2026

Adu Kebolehan Seni Tradisi, 12 Grup Jaranan dari Berbagai Daerah Bertarung di Karang Asam Festival 2026

indopers.net | MUARA ENIM (Sumsel), 19 September 2026 – Puncak kemeriahan Karang Asam Festival (KAF) 2026 terasa semakin membara pada Sabtu (19/9/2026) dengan diselenggarakannya Lomba Jaranan Se-Sumatera Selatan. Ajang kompetisi bergengsi ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dan provinsi dalam melestarikan serta mengembangkan seni tradisi sebagai identitas budaya yang dinamis.

Kompetisi yang berlangsung di Lapangan Karangasam, Tanjungenim, ini diikuti oleh 12 peserta terbaik yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Komposisi peserta menunjukkan persaingan yang ketat dan representasi budaya yang luas, yaitu:

  • Kabupaten Muara Enim: 4 Peserta
  • Kabupaten Lahat: 5 Peserta
  • Kabupaten Pali (PALI): 1 Peserta
  • Kota Prabumulih: 1 Peserta
  • Kota Lubuk Linggau: 1 Peserta

Mewujudkan Visi “Budaya Tidak Boleh Berhenti”

Pelaksanaan lomba ini merupakan implementasi langsung dari arahan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si., yang sebelumnya telah membuka festival tersebut. Dalam sambutannya mewakili Gubernur Sumsel, Dr. H.Rudi Irawan,S.Sos.,M.Si., menekankan filosofi mendalam tentang keberlanjutan kebudayaan.

“Budaya tidak boleh terhenti di satu tempat, kreativitas tidak boleh berhenti di satu generasi, dan manfaat pembangunan tidak boleh berhenti di satu kelompok masyarakat,” ujar Dr. H.Rudi Irawan,S.Sos.,M.Si.,
Pernyataan ini menjadi landasan mengapa lomba jaranan diadakan secara terbuka antar-daerah. Tujuannya adalah agar seni tradisi tidak stagnan, melainkan terus berinovasi, menyebar ke generasi muda, dan memberikan dampak ekonomi bagi para seniman serta masyarakat pendukungnya.

Suguhan Visual Memukau dan Aksi Atraktif

Selama kompetisi berlangsung, para penonton disuguhkan dengan pertunjukan yang sangat memukau. Setiap grup menampilkan kekhasan koreografi, kostum, dan kekuatan magis-atraktif yang berbeda-beda. Mulai dari tarian kuda lumping yang enerjik hingga aksi ndadi atau trance yang menegangkan namun sarat nilai seni.

Para juri yang terdiri dari pakar seni budaya menilai aspek kreativitas, kekompakan, keindahan kostum, serta kedalaman penghayatan para penari. Kehadiran para penonton yang memadati lapangan menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap seni jaranan masih sangat tinggi.

Dengan adanya lomba ini, diharapkan para seniman jaranan di Sumatera Selatan semakin termotivasi untuk menjaga kualitas karya mereka, sehingga seni tradisi ini tetap lestari, dikenal luas, dan menjadi kebanggaan daerah di tingkat nasional maupun internasional. (Hery Bule)

 44 total views,  44 views today

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!