Mencapai 512 Korban Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo dari 19 Lembaga Ungkap Wagub Jatim Emil Dardak

Mencapai 512 Korban Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo dari 19 Lembaga Ungkap Wagub Jatim Emil Dardak

indopers.net | Sidoarjo (Jatim) – Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur menyebut total korban dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo mencapai 512 orang.

Emil mengatakan, para korban tersebut berasal dari 19 lembaga yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama, yakni SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo.

Hal itu disampaikan Emil setelah meninjau RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo pada Senin (1/9/2026) menjelang tengah malam. Saat kunjungan, sejumlah pasien masih menjalani penanganan medis.

“Kami mengapresiasi pihak rumah sakit maupun Dinkes Sidoarjo dan BPBD Sidoarjo serta Pak Bupati karena yang masuk itu sudah menjelang 300 pasien di rumah sakit Notopuro dan mereka semua tertangani dengan baik,” kata Emil.

Menurutnya, BPBD Sidoarjo turut menyediakan tambahan tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan pasien. Para pasien juga mendapatkan penanganan, termasuk pemberian infus untuk rehidrasi akibat kehilangan cairan.

Emil menyebut, lebih dari 200 pasien yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro sudah diperbolehkan pulang. Namun, masih terdapat 92 pasien yang menjalani observasi dan tiga pasien yang masih menjalani rawat inap.

Sementara itu, jumlah pasien di RS Siti Hajar juga cukup banyak. Dari sekitar 77 pasien yang masuk, lebih dari 30 orang masih menjalani rawat inap.

“Total ada delapan rumah sakit tetapi yang terbanyak ini adalah di RSUD Notopuro yang masuk sana, sekitar 330-an kalau tidak salah,” ujarnya.

Emil juga menekankan pentingnya meluruskan informasi mengenai asal makanan yang dikonsumsi para korban. Menurutnya, korban tidak hanya berasal dari satu pondok pesantren atau satu lembaga pendidikan.

“Kalau ada informasi bahwa mereka mengkonsumsi juga dari pihak pesantren itu sudah mungkin perlu diimbangi dengan informasi bahwa memang yang dirujuk rumah sakit ada dari 19 lembaga,” jelasnya.

Ia mengatakan, salah satu kesamaan dari para korban adalah mereka merupakan penerima makanan dari SPPG yang sama dan mengonsumsi menu yang sama.

“Ya kita lihat faktor apa kesamaan dari semua adalah penerima dari SPG yang sama. Mengkonsumsi menu yang juga kebetulan sama,” kata Emil.

Meski demikian, Emil mengatakan penanganan pasien tidak dilakukan secara seragam. Tenaga medis menyesuaikan tindakan dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk bagi pasien yang memiliki riwayat asma atau alergi obat.

Menurut Emil, sebagian pasien yang sudah selesai mendapatkan infus mengaku kondisinya mulai membaik. Namun, sejumlah pasien masih terlihat lemas.

“Karena mungkin ya tadi kehilangan cairan banyak tapi mereka sudah rehidrasi, dari perutnya sudah mulai lebih nyaman lah kondisinya,” katanya.

Emil juga mengapresiasi respons rumah sakit dalam menghadapi lonjakan pasien. Meski hampir 300 pasien datang untuk mendapatkan penanganan, rumah sakit tetap mendatangkan tenaga medis yang berstatus on call.

Ia memastikan pasien lain yang datang ke IGD dengan keluhan berbeda juga tetap mendapatkan pelayanan medis.

“Jadi mereka mendatangkan tenaga medis yang on call ke rumah sakit. Kemudian mereka juga pasien-pasien lain di IGD yang keluhannya lain bukan karena keracunan makanan juga tetap tertangani dengan baik,” pungkasnya. (Mbah mat)

 30 total views,  30 views today

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!