Sisa Karhutla di Kotim Ungkap Penemuan Sapundu Kuno Yang Ikut Terbakar
indopers.net | Kotawaringin Timur (Kalteng) – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) selama beberapa bulan terakhir tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kelestarian sejarah lokal. Sebuah objek yang diduga cagar budaya berupa Sapundu ditemukan dalam kondisi tersisa akibat terlahap api di area kebun warga Desa Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
Penemuan benda bersejarah ini bermula dari peristiwa karhutla yang membakar area kebun sawit dan lahan pertanian warga pada 2 Agustus 2026. Setelah kobaran api padam, pemilik lahan, Zulkifli, terkejut saat menyisir lokasinya dan menemukan ukiran kayu kuno tersebut.
“Benda yang diduga cagar budaya berupa Sapundu ini berada di dalam kebun saya. Saya sendiri baru mengetahuinya setelah api melalap lahan dan padam. Sampai saat ini, Sapundu tersebut masih tergeletak di lokasi dan belum mendapatkan perhatian dari pihak mana pun,” ujar Zulkifli.
Warga sekitar mengaku tidak tahu pasti berapa jumlah pasti Sapundu yang berada di kawasan tersebut, mengingat ukiran kayu bernilai sejarah tinggi ini baru tampak setelah vegetasi lahan terbuka akibat terbakar. Melihat dari struktur dan ciri fisiknya, warga menduga patung tersebut sudah berusia sangat tua karena tidak pernah ditemukan selama bertahun-tahun kawasan itu digarap.
Atas penemuan ini, masyarakat setempat menyampaikan beberapa poin penting kepada pihak berwenang:
Pemeriksaan Arkeologis: Mendorong dinas terkait untuk mengidentifikasi usia, asal-usul, dan nilai historis dari Sapundu yang ditemukan.
Tindakan Penyelamatan Segera: Mengarahkan Pemerintah Daerah Kotim dan instansi kebudayaan agar segera turun ke lapangan guna meneliti serta mengamankan fisik objek dari kerusakan lebih lanjut.
Inventarisasi Kawasan: Melakukan penyisiran di sekitar lokasi penemuan untuk memastikan apakah masih terdapat peninggalan bersejarah lainnya yang tertimbun.
Sapundu merupakan patung ukir kayu khas Dayak yang memiliki nilai sakral dan sejarah tinggi, umumnya digunakan dalam ritual adat Tiwah. Peristiwa ini menjadi pengingat mendesaknya inventarisasi dan perlindungan terhadap kawasan rawan karhutla yang berpotensi menyimpan artefak warisan budaya daerah.
(Umar k)
126 total views, 126 views today






