KEKASIH AKAN SELALU MERINDUKAN SOSOK YANG DIKASIHINYA

KEKASIH AKAN SELALU MERINDUKAN SOSOK YANG DIKASIHINYA

By Muslich Taman, Penulis Buku: Pendidikan Karakter Generasi Milenial

indopers.net | Bogor (Jabar) – Seorang santri sejati menyimpan cinta yang tak lekang oleh waktu. Nur Yahya adalah satu di antaranya. Cintanya kepada sang guru, KH. Maemun Zubair Rahimahullah, bukan sekadar rasa hormat, melainkan rindu mendalam yang hidup dalam setiap langkah. Ia seakan ingin selalu berada di sisi kyainya, menggenggam erat petuah dan nasihat yang dahulu ditanamkan dengan penuh kasih dan kebijaksanaan.

Meski Kyai Maemun Zubair telah wafat, Nur Yahya tetap setia menapaki jejak pengabdian. Usia tak menjadi penghalang baginya. Ia tetap rajin berkunjung ke pondok pesantren peninggalan Sang Kyai. Di Rembang Jawa Tengah. Bahkan bukan sekadar berkunjung, tetapi melanggengkan tradisi nyantrinya. Ikut belajar dan menyimak bacaan kitab kuning yang disampaikan para putra Sang Kyai. Gus Ubab, Gus Najih, Gus Ghofur, dan yang lainnya.

Selain itu, Nur Yahya juga tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga Mbah Maemun, terutama dengan anak-anak beliau. Termasuk dengan Gus Yasin yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Seolah ingin memastikan, bahwa tali cinta itu tak pernah putus. Kematian, jarak, dan waktu tak mampu memudarkan rasa. Sebagaimana dulu, saat Mbah Maemun masih hidup, beliau beberapa kali berkunjung ke rumah sang santrinya tersebut. Bahkan, menurut ceritanya, Mbah Maemun pernah 3 kali menginap di rumahnya. Konon, karena Mbah Maemun kemalaman habis mengisi sebuah acara pengajian di suatu tempat, atau karena sebab lainnya.

Kini ketika Allah takdirkan, Mbah Maemun Zubair meninggal di Tanah Suci dan dimakamkan di Pemakaman Ma‘la Makkah, Saudi Arabia —jauh dari tanah air Indonesia tempat Nur Yahya bermukim—kerinduan itu tak surut. Setiap ada kesempatan, haji maupun umroh, momen tersebut menjadi jalan untuk berziarah, menembus jauhnya jarak dari tempat menginapnya, demi menundukkan doa di pusara Sang Guru.

Bagi Nur Yahya, lelah dan jarak bukan penghalang, melainkan bukti cinta sejati. Petuah itulah yang juga diajarkan kepada sang cucu, Mahyaya Lillahi Ta’ala, saat diajak umroh tahun ini. Mahyaya diminta mendampinginya. Naik taksi berdua berziarah ke Ma’la untuk mengirimkan doa kepada Sang Murabbi.

Begitulah hakikat kekasih: ia akan selalu merindukan sosok yang dikasihinya, setia dalam doa, teguh dalam ingatan, dan ikhlas dalam pengabdian. Sebuah karakter mulia yang terpatri kuat pada hati murid kepada gurunya. Wallahu a’lam bis shawab.(Sopian A/ MT).

 100 total views,  42 views today

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!