Cegah Kebakaran Gambut Meluas, Dandim 1015/Sampit Pimpin Ground Check dan Pemadaman Karhutla di Mentaya Seberang
indopers.net | Kotawaringin Timur (Kalteng) – Komandan kodim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, S.I.P., memimpin langsung kegiatan ground check yang dilanjutkan dengan aksi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) bersama unsur terkait di wilayah Sei Belayar, Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (9/10/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk perhatian serius dan dukungan nyata TNI dalam upaya penanganan Karhutla di wilayah Kotawaringin Timur. Lokasi titik api yang berjarak sekitar 67 kilometer dari Posko memiliki kondisi vegetasi semak belukar di atas tanah gambut. Karakteristik lahan gambut tersebut memerlukan penanganan intensif dan ekstra ketat untuk mencegah api kembali menyala serta meluas ke area sekitarnya.
Dalam aksi tanggap darurat ini, Dandim 1015/Sampit turun langsung ke lapangan mendampingi Wakil Bupati Kotim Irawati, S.Pd., M.AP., dan Danramil 1015-03/Mbk Letda Inf Iskandar. Tim gabungan dari Posko Tanggap Darurat Karhutla Kabupaten Kotim yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, serta instansi terkait lainnya bahu-membahu bergerak melakukan pemadaman dan pembasahan di area terdampak.



Letkol Inf Dwi Candra Setyawan menjelaskan bahwa ground check secara langsung sangat krusial untuk meninjau medan, memastikan proses penyekatan api berjalan optimal, serta mengukur tingkat kerawanan lokasi.
“Berdasarkan hasil pengecekan langsung di lapangan, lokasi Karhutla ini tergolong cukup luas. Oleh karena itu, kita memerlukan penambahan personel guna memperkuat tim pemadaman yang sudah ada di lokasi saat ini,” tegas Dandim.
Penanganan Khusus di Lahan Gambut
Di lokasi kebakaran, personel gabungan berupaya menahan laju perambatan api dengan membuat sekat batas (firebreak), dilanjutkan dengan penyiraman dan pembasahan mendalam. Kebakaran pada lahan gambut menjadi perhatian khusus para petugas karena api tidak hanya berkobar di permukaan, tetapi juga merayap di bawah permukaan tanah (underground fire).
Pembasahan (cooling/rewetting) secara masif wajib dilakukan untuk memastikan bara api di dalam lapisan tanah benar-benar padam total, mengingat potensi titik api (hotspot) menyala kembali sangat tinggi jika bara tersisa.
Dandim 1015/Sampit menegaskan pentingnya sinergi, kolaborasi, dan respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), mulai dari tahap pemantauan awal, pengerahan pasukan, pemadaman, hingga tahap pendinginan akhir.
“Penanganan Karhutla membutuhkan kerja sama dan respons cepat dari seluruh unsur yang terlibat. Diawali dengan ground check, pengerahan pasukan pemadaman, kemudian setelah api berhasil dipadamkan, pembasahan harus tetap dilakukan untuk memastikan bara yang tersisa dapat dikendalikan sehingga kebakaran tidak kembali terjadi,” pungkasnya.
(Umar k/Pendim 1015/Spt)
16 total views, 16 views today






