Jeritan Warga Desa Terantang: Sulit BBM Subsidi, Tarif Perahu Kelotok Naik Dua Kali Lipat

Jeritan Warga Desa Terantang: Sulit BBM Subsidi, Tarif Perahu Kelotok Naik Dua Kali Lipat

indopers.net | Kotim (Kalteng) – Langit pagi di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur, tampak cerah pada Selasa (16/6/2026).

Seperti biasa, urat nadi perekonomian desa yang terletak di sungai Mentaya yang jaraknya dari Kota Sampit jarak tempuh 35 menit 23 menit ini mulai berdenyut sejak matahari belum tinggi.

Hilir mudik taksi kelotok (perahu motor tradisional) tampak sibuk melayani warga yang hendak pergi bekerja ke kebun.

Di sudut lain, pedagang sayur keliling mulai memacu sepeda motornya, sementara para petani lokal dengan tenang mengayuh sampan menuju ladang.

Sebagian warga lainnya bersiap menyeberang menuju Kota Sampit untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga.

Kehidupan di Desa Terantang sejatinya sangat harmonis. Dibalik keberagaman status sosial ekonomi masyarakatnya ada yang berkecukupan dan ada yang kurang mampu warga hidup berdampingan secara agamis, damai, dan penuh toleransi.

Namun, di balik kedamaian tersebut, tersimpan keresahan yang kini mulai mencekik kantong warga.

Masalah utama yang kini dihadapi warga adalah melonjaknya tarif taksi kelotok penyeberangan.

Kenaikan ini merupakan dampak berantai dari sulitnya para motoris kelotok mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar bersubsidi.

Meskipun secara resmi harga Solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak mengalami kenaikan, kenyataan di lapangan berkata lain.

Para operator kelotok mengaku kesulitan mengakses BBM subsidi tersebut, sehingga terpaksa membeli BBM non-subsidi atau eceran yang harganya jauh lebih mahal agar tetap bisa beroperasi.

Akibatnya, tarif penyeberangan yang dulunya hanya Rp 5.000, kini meroket 100% menjadi Rp 10.000 per unit sepeda motor sekali menyebrang.

Kepala Desa Terantang, Aswadi Syukur, angkat bicara mewakili keresahan warganya. Menurut Aswadi, kenaikan tarif ini sangat memukul perekonomian masyarakat, mengingat mayoritas penduduk desa menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.

“Tarif yang dulunya Rp 5.000 naik menjadi Rp 10.000, tentu ini sangat membebani. Terutama bagi para petani dan pekerja kebun yang setiap hari menggunakan jasa kelotok.

Kalau dihitung-hitung, mereka bisa menghabiskan sekitar Rp 600.000 dalam sebulan hanya untuk ongkos penyeberangan. Itu belum termasuk biaya minyak (BBM motor), uang makan, dan kebutuhan lainnya,” ujar Aswadi.

Aswadi menambahkan bahwa hampir 80% warga Desa Terantang adalah petani kebun, sehingga dampak dari kenaikan tarif kelotok ini dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Melihat kondisi yang kian memberatkan ini, warga dan pihak pemerintah desa sangat berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah melalui dinas terkait.

Masyarakat meminta agar pemerintah segera turun tangan memberikan solusi nyata baik melalui pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran hingga ke para motoris kelotok, maupun regulasi tarif yang tidak merugikan sebelah pihak.

Warga berharap, secercah harapan dari langit cerah Terantang pagi ini bisa diwujudkan lewat kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat kecil.

(Umar k)

 113 total views,  36 views today

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!