Langkah PDAM Delta Tirta Tekan Tingkat Kehilangan Air
indopers.net | SIDOARJO (Jatim) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta tengah berupaya menekan Tingkat Kehilangan Air (TKA). Targetnya, TKA bisa turun.
Direktur Utama (Dirut) PDAM Delta Tirta Dwi Hary Soeryadi mengatakan, target penurunan TKA dari 36 persen menjadi 25 persen itu juga berdasarkan rencana bisnis (renbis) jangka panjang PDAM yang telah disusun. Dwi Hary Soeryadi juga menjelaskan bahwa angka TKA yang saat ini berada dikisaran 30% masih tergolong normal jika dibandingkan daerah daerah lain di indonesia.
“TKA tidak bisa langsung dianggap sebagai kerugian, peyumbang terbesar TKA adalah faktor teknis kondisi jaringan perpipaan yang tertanam dibawah tanah sudah berusia cukup tua dan lama sekali, membuat potensi tingkat kebocoran semakin tinggi,” ungkap Dwi Hary.
Dwi juga menjabarkan, sejumlah strategi juga telah dilakukan untuk menekan TKA. Di antaranya dengan pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV). Alat tersebut berguna mengatur tekanan di pipa jaringan.
Langkah berikutnya adalah dengan rehabilitasi meter air. Dimana tidak sedikit meter air pelanggan yang sudah lama. Hal itu tentunya membuat penurunan kinerja dan akurasi.
Tak kalah penting, kebocoran air juga bisa terjadi di pipa-pipa distribusi sebelum mencapai pelanggan. Salah satu penyebabnya karena pipa yang keropos. Karena itu perlu dilakukan rehabilitasi. “Kami akan rehabilitasi pipa yang keropos,” tegasnya.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Energi Nasional (DEN) juga menjelaskan, “Selain faktor teknis, terdapat pula kontribusi kehilangan air akibat faktor nonteknis, meskipun porsinya relatif kecil dibandingkan kebocoran fisik pada jaringan perpipaan.
Adapun pada sebagian kecil kasus yang disebabkan faktor nonteknis, seperti penyalahgunaan sambungan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pihak tertentu, Perumda Delta Tirta memiliki mekanisme pengawasan dan penindakan sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan dan terbukti terjadi pelanggaran, perusahaan akan menindaklanjuti secara tegas serta berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai peraturan perundang-undangan.
Untuk mengatasi persoalan TKA, Perumda Delta Tirta mulai menerapkan sistem digitalisasi melalui teknologi SCADA. Teknologi ini memungkinkan pemantauan jaringan distribusi secara lebih cepat dan akurat sehingga kebocoran dapat terdeteksi lebih dini.
”Perumda Delta Tirta sudah mencobanya di kawasan Perumahan Shojiland dan hasilnya sangat baik,” jelasnya.
Dalam uji coba tersebut, tingkat kehilangan air yang sebelumnya berada di kisaran 40 persen berhasil ditekan hingga di bawah 1 persen. Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa digitalisasi merupakan salah satu solusi paling efektif dalam menurunkan TKA.
Meski demikian, penerapan teknologi tersebut secara menyeluruh membutuhkan biaya dan investasi yang sangat besar. Oleh karena itu, implementasinya harus dilakukan secara bertahap dengan perencanaan yang matang.
”Investasi untuk digitalisasi jaringan tidak kecil. Karena itu diperlukan tahapan, konsistensi, dan kesabaran agar target penurunan TKA dapat tercapai secara berkelanjutan,” tambahnya.
Perumda Delta Tirta juga pernah menjajaki kerja sama dengan investor untuk mempercepat program penurunan TKA. Bahkan dua investor sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU), namun kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan karena menghadapi berbagai kendala teknis maupun nonteknis.
Dwi Hary berharap upaya penurunan TKA terus menjadi komitmen perusahaan ke depan. Menurutnya, siapa pun yang memimpin Perumda Delta Tirta nantinya harus tetap memiliki semangat untuk melakukan perbaikan berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
”Saya berharap Perumda Delta Tirta tidak patah arang untuk terus berupaya menurunkan tingkat kehilangan air. Siapa pun direksinya nanti, semangat untuk berjuang dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat harus terus dijaga demi hasil yang lebih baik di masa mendatang,” pungkasnya. (mbah mat)
127 total views, 3 views today






