Warkop di Surabaya Tutup Dikira Mudik, Ternyata Pemilik Warkop Meninggal Karena Covid-19

Warkop di Surabaya Tutup Dikira Mudik, Ternyata Pemilik Warkop Meninggal Karena Covid-19

indopers.net, Surabaya

Sebuah warung di Jalan Ikan Dorang, Kelurahan Perak Barat, Surabaya menarik pengguna jalan yang lewat. Warung kopi (Warkop) yang biasanya ramai pengunjung itu tutup, dan di sekelilingnya diberi tali rafia. Namun yang paling menyolok ada pengumuman yang ditempel di depan warung, tertulis: “Warung ini ditutup karena penjual meninggal akibat Covid-19”

Beberapa warga sekitar langsung ramai membahas soal pemilik warung tersebut. “Saya baru tahu ya, kalau pemiliknya meninggal karena Covid, soalnya tutupnya sebelum lebaran, saya pikir tutup karena orangnya mudik,” tutur Hariyati, warga yang rumahnya tidak jauh dari lokasi warung tersebut, Kamis (20/5/2021).

Herman salah satu warga daerah setempat mengatakan, warung kopi yang buka mulai pukul 06.00 WIB ini selalu ramai pembeli. Rata-rata pelanggannya adalah sopir, tukang becak, kuli bangunan sampai ojek online yang nge-tem menunggu orderan.

“Kebetulan dari sini ada beberapa pabrik, jadi lumayan ramai, apalagi dekat jalan besar jadi banyak yang nongkrong,” ungkapnya.

Seperti Warkop pada umumnya, warung ini juga menyediakan aneka jajanan dan nasi bungkus. Tak heran jika warung ini ramai karena jadi jujugan untuk mencari sarapan. Ditambah lagi, kiri kanan warung ini juga ada penjual lainnya, yaitu penjual soto ayam, dan warung kopi juga.

Herman mengaku tidak mengenal pemilik warung, tapi dirinya mengaku terkejut dengan adanya penutupan dan pengumuman yang tertempel di dinding warung kopi tersebut. “Malah baru tahu dua hari setelah lebaran, soalnya baru lewat sini,” katanya.

Setelah diruntut, ternyata papan pengumuman tersebut sengaja ditempel oleh pihak Kelurahan Perak Barat.

Rika Aisyah Lurah Perak Barat menuturkan kronologi kejadiannya. Awalnya pihak Kelurahan menanyakan keberadaan warung yang tutup tersebut kepada salah satu pegawai warung yang bernama Wawan.

Wawan mengatakan, bahwa Cak Khan pemilik Warkop tersebut sedang pulang kampung menjelang lebaran, “Setelah itu kami tidak dilapori apapun, tiba-tiba ada kabar kalau Cak Khan meninggal karena Covid,” jelasnya.

Setelah mendapat informasi, tepatnya di malam Lebaran jika Cak Khan meninggal karena Covid, Rika langsung memerintahkan stafnya segera melakukan  penyemprotan, menutup dan menyegel serta menempelkan pengumuman jika pemilik warung meninggal karena Covid. Warung kopi ini dan dua warung yang berada di kanan kirinya juga turut ditutup selama satu bulan untuk menghentikan perkembangan virusnya.

“Kami dikabari jika Cak Khan meninggal di malam lebaran, begitu ada kabar meninggal karena Covid, dan dibuktikan dengan adanya informasi bahwa dimakamkan di TPU Babat Jerawat makam khusus pasien Covid, malam itu saya perintahkan untuk melakukan penutupan,” kata Rika.

Setelah dilakukan pengecekan dan berdasar KTP,  ternyata Cak Khan berdomisili di daerah Gadukan, Kelurahan Morokrembangan, Surabaya.

Dalam penelusuran tersebut ditemukan fakta mengejutkan, istri Cak Khan terlebih dahulu terkena Covid-19, hanya saja kondisi istrinya lebih baik, dan saat ini masih dalam proses pengobatan. Sedangkan Cak Khan kondisinya drop dan meninggal. “Cak Khan ini saat istrinya positif  tidak laporan, akhirnya tertular dan dirawat di PHC juga tidak laporan,”jelas Rika.

Dari penemuan ini, bisa jadi, Cak Khan tetap berjualan, meski sudah terpapar Covid dari istrinya.   “Kalau ada penjual yang kena Covid, lalu tidak bilang, malah terus meladeni pembeli bisa bahaya, iya kalau pembelinya kuat khawatirnya orang tanpa gejala (OTG), di rumah ada anak kecil, ada orang tua, lalu bawa virus dan terjadi hal yang tidak diharapkan, khan kasihan,” ujar Rika.

Pihaknya merasa kecolongan, apalagi  selama ini rutin memberikan sosialisasi, bahkan, sejak awal PKL, warung kopi di daerah Kelurahan Perak Barat sudah didata  dan selalu diingatkan untuk menyediakan tempat cuci tangan dan selalu jaga jarak, termasuk jam operasional buka tutup warung. “Tapi namanya warga ada yang tidak menjalankan arahan dari kami, “ tegasnya.

Pengumuman dengan huruf yang diblok merah tersebut  sempat diprotes warga. Menanggapi hal tersebut Rika malah mempersilahkan untuk menemui dirinya. Kata Rika pihaknya transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi, apalagi pengumuman ini bagian edukasi bagi warga agar tidak meremehkan protokol kesehatan.

“Sebagai Satgas Covid kami mendorong masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat jangan pernah lengah, karena di zona manapun tetap belum aman, karena penularan Covid-19 masih terus terjadi,” tegas Rika.

(taufik)

 252 total views,  1 views today

indopers.net

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!