Gerakan Literasi Pesantren Mambaul Hikmah Tegalwangi Kab. Tegal

indopers.net, Tegal

Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah
( Imam Al-Ghazali)

Sindiran ulama muslim yang bergelar Hujjatul Islam, perlu dijadikan pelajaran bagi umat muslim. Beliau mencoba menginformasikan kepada semua orang bahwa sudah sepantasnya bagi seseorang agar dapat memberikan sumbangsih bagi sesama manusia selama kita diberi kesehatan dan kehidupan di dunia. Orang yang hidup didunia ini tidak akan bernilai kalau tidak meninggalkan apa-apa untuk generasi penerusnya. Warisan yang bisa dinikmati oleh orang banyak karena kita bukan anak raja atau anak ulama besar adalah dengan menulis.

Ucapan beliau terbukti, karya – karya hasil tulisan Imam Al-Ghazali sampai sekarang masih bisa kita nikmati walaupun beliau sudah wafat seribu tahun yang lalu. Karya – karya tulisan beliau seperti Tahafutul Falasifah, Minhajul ‘Abidin, empat jilid Ihya’ Ulumuddin, Kimiya ‘As’saadah, Misykatul Anwar, itu hanyalah sedikit dari maha karya Imam Al-ghazali yang masih sering digunakan dalam kajian di pesantren maupun forum diskusi ilmiah dan pengajian – pengajian rutin.

Fenomena ini yang melatarbelakangi Gerakan Literasi Pesantren di Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Tegalwangi Kabupaten Tegal pimpinan Kyai H. Muhammad Sulthon Barmawi, S.HI., M.Pd. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu yang dapat digunakan lintas generasi adalah dengan memulai dari membaca.

Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan oleh Kemdikbud tahun 2016 sejalan dengan terbentuknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Realita yang ada GLS bukan monopoli sekolah saja, pesantren pun sudah melaksanakan kegiatan literasi sejak dulu tetapi lebih fokus untuk ilmu-ilmu agama. Kegiatan di pesantren mungkin tidak disebut sebagai sebuah gerakan literasi namun secara de facto kegiatan literasi sudah diimplementasikan sejak dulu dan terbukti dapat meningkatkan minat baca juga kompetensi para santri.

Setiap hari para santri Mambaul Hikmah melakukan gerakan literasi dimulai dari membaca surat-surat pendek dan bacaan shalat. Kegiatan selanjutnya membaca al-quran, membaca kitab-kitab. Saat berada si pondok, para santri akan menelaah sendiri (muthalaah) pelajaran yang sudah dipelajari dengan para ustadz atau ustadzah, dilanjutkan dengan kegiatan mengingatkan bacaan (mudzakarah), berdiskusi (mutharahah), dan saling berbagi pandangan (munadharah).

Serangkaian kegiatan itu dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dan membangun budaya diskusi (musyawarah) di lingkungan pesantren dan bukan hanya sekedar debat kusir dan pepesan kosong tanpa hasil.
Kegiatan lainnya di pesantren Mambaul Hikmah, hari Selasa malam para santri juga diberi kesempatan belajar berorasi / berpidato untuk persiapan dan bekal mereka dalam berdakwah. Melatih kemampuan menyampaikan atau membahas satu permasalahan kemudian akan disimak oleh santri-santri lainnya. Kegiatan seperti ini tentu saja untuk meningkatkan kompetensi santri berbicara di depan orang banyak, menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan diri, karena tanpa diberikan pelatihan dan kesempatan maka berbicara didepan umum tidak akan dimiliki para santri.

Pondok Pesantren Mambaul Hikmah memiliki Program Kesetaraan Ulya. Gerakan Literasi Pesantren mulai dilakukan pada program tersebut. Setiap hari setelah membaca al-quran para santri mulai melakukan gerakan literasi diantaranya membaca pengetahuan di majalah atau buku bacaan dan membaca berita pada suatu majalah tertentu yang disediakan oleh pihak pesantren untuk dibuat resume. Resume itu ditulis tangan oleh para santri di buku tulis dengan ketentuan yang sudah diberikan oleh para ustadz/ ustadzah sehingga dalam setiap hari semua santri yang mengikuti program Kesetaraan Ulya akan melakukan gerakan literasi (membaca dan menulis). Resume tersebut dalam setiap minggu akan dievaluasi agar terjadi peningkatan kemampuan berliterasi juga untuk membangun motivasi dalam melakukan kegiatan literasi tersebut.

Motto dalam kegiatan Gerakan Literasi Pesantren ini adalah Dipaksa – Terpaksa – Terbiasa. Kegiatan ini cukup mendapat respon yang baik dari para santri. Mengingat peran strategis pesantren dalam mengembangkan budaya literasi, maka perlu perhatian banyak pihak terkait terhadap pengadaan bahan bacaan di pesantren. Pesantren jangan dibiarkan berjuang sendiri dalam rangka ikut mencerdaskan anak bangsa.

( Penulis Nurhidayati, M.Kom. Guru SMA N 3 Tegal dan Mengajar di Program Kesetaraan Ulya Ponpes Mambaul Hikmah Tegalwangi Kab. Tegal. )

 979 total views,  1 views today

indopers.net

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!