Satu Lagi Seorang Wartawan Di Mamuju Sulawesi Diduga DiBunuh.

indopers.net, Mamuju – SULBAR

Setiap tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Peringatan Hari Pers diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kebebasan pers di Indonesia

Namun, ternyata kebebasan pers juga masih saja terganjal. Salah satunya terlihat dari kasus pembunuhan wartawan di Indonesia.
akibat pemberitaan yang dianggap merugikan pihak tertentu.

Aksi kriminalisasi terhadap jurnalis kembali terjadi di tanah air, kali ini seorang jurnalis media online dari Mamuju Tengah, Sulawesi Barat yang menjadi korbannya.

Demas Laira diduga meninggal karena dibunuh. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Barat AKBP Syamsu Ridwan membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan pada saat ditemukan ada luka tusukan benda tajam pada tubuh Demas Laira yang diduga dibunuh.

Demas Laira ditemukan tewas di Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Kamis (20/8/2020) dini hari tadi.

“Dari identitas yang ditemukan korban adalah wartawan magang di salah satu media,” kata Syamsu kepada indopers.net saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2020), sore.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi Sulawesion.com Supardi Bado tak menampik bahwa Demas Laira yang dikabarkan meninggal dunia tersebut merupakan karyawannya.

“Iya benar (karyawan). Sih Demas Laira itu melamar kerja di Sulawesion.com itu pada 1 Agustus 2020 barusan. Setelah melamar dua hari kemudian kita terbitkan Id Card untuk liputan di sana. Dia wartawan di Mamuju dan Mamuju Tengah,” ungkapnya.

Demas Laira aktif mengirim pemberitaan ke redaksi Sulawesion.com meski berstatus wartawan magang.

“Dia mengirim berita soal pengerjaan proyek di desa-desa. Kejadian kan tadi malam, saya kaget juga dapat kabar dari teman-teman di Mamuju,” kata dia.

“Iya masih magang karena masih baru kan. Dia masuk di Sulawesion.com sekitar 20 hari ini, selama kerja di Sulawesion.com kurang lebih sekitar enam berita yang dimuat kami. Dia mintanya (tugas) di Mamuju sama Mamuju Tengah,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Mamuju Tengah AKBP Zakiy mengemukakan kejadian tersebut awalnya diduga merupakan kecelakaan lalu lintas jalanan.

“Ini korban kan tergeletak di jalan. Ada sopir mampir di Polsek, dia bilang pak di sana ada orang kecelakaan gitu. Kejadiannya semalam. Iya betul itu, ditemukan sekitar pukul 01.00 WITA,” ungkap Zakiy

Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi pun bergegas ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Hasilnya, korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.
“Setelah dicek ternyata memang ditemukan ada beberapa luka yang diduga luka tusukan,” kata dia.

Meski ada luka tusukan, Zakiy belum mau berspekulasi bahwa kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan.
“Kita masih mencoba lidik. Mengumpulkan bukti-bukti kalau dari lukanya memang itu sepertinya ada luka tusukan gitu ya, tapi tidak bisa berspekulasi apakah dibunuh atau apa,” kata dia.

Selain itu, polisi juga menemukan barang bukti lain seperti Id card wartawan, sepatu dan sandal di lokasi tempat korban ditemukan.
“Cuma memang ada kartu identitas Id card pers. Sepertinya media online kalau nggak salah,” ungkapnya.

Mayat korban pun telah dibawa ke Rumah Sakit Satelit, Mamuju Tengah, Sulbar untuk dilakukan pemeriksaan visum. “Kita masih dalami, kita panggil saksi yang mengetahui pertama terus digabungkan mungkin dengan hasil pemeriksaan visum dari RS ya,” katanya.

Pimpinan Redaksi Sulawesion.com, merasa sangat geram kepada pelaku pembunuhan, Menurut Supardi Bardo, peristiwa ini harus segera di tuntaskan, karena tindakan ini di nilai telah menciderai Kemerdekaan Pers serta mengkhianati kehidupan Demokrasi di Tanah Air.

“Saya akan mendesak kepada Aparat Penegak Hukum agar secepat nya dapat menangkap pelaku dan otak pembunuhan itu, karna pembunuhan terhadap wartawan bukan lah hal yang biasa. Ini merupakan salah satu bentuk pembungkaman terhadap Pers, perlawanan perlawanan terhadap prinsip Negara Hukum,” tutur supardi baldo dengan nada geram.

“Semestinya Masyarakat menempuh mekanisme Hak Jawab sesuai ketentuan UU Pers 40/1999 bukan melakukan Intimidasi. Seandainya belum puas, bisa mengadukan permasalahan ke Dewan Pers,” ujarnya. (Rdy)

 362 total views,  2 views today

indopers.net

indopers.net

Menyampaikan Kebenaran Yang Jujur Untuk Keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!